shangrilabanquet.com – Konflik di Sudan yang telah berlangsung lebih dari dua tahun kembali memicu aksi kekerasan. Serangan pesawat tak berawak yang dilakukan oleh Pasukan Pendukung Cepat (RSF) paramiliter pada Minggu malam, 15 Februari 2026, menewaskan tiga orang dan melukai tujuh lainnya di Rumah Sakit Al Mazmoum, yang terletak di Negara Bagian Sennar, Sudan tenggara. Korban jiwa termasuk seorang staf medis, seperti dinyatakan oleh Jaringan Dokter Sudan.
Dalam rilisnya, organisasi tersebut mengungkapkan bahwa serangan terhadap fasilitas kesehatan adalah pelanggaran berat terhadap hukum internasional yang melindungi pusat medis dan petugas kesehatan. Jaringan itu juga menekankan bahwa insiden seperti ini semakin mendalam penderitaan warga sipil dan menghalangi akses mereka terhadap perawatan medis yang diperlukan. Mereka menyatakan bahwa kepemimpinan RSF bertanggung jawab penuh atas penargetan rumah sakit tersebut.
Hingga saat ini, RSF belum memberikan komentar resmi mengenai insiden ini. Namun, baik otoritas Sudan maupun organisasi hak asasi manusia telah menuduh RSF secara sistematis menargetkan fasilitas sipil dalam operasi mereka. Meskipun menghadapi kritik, RSF mengklaim bahwa mereka berkomitmen untuk melindungi warga sipil.
Konflik yang berkepanjangan ini semakin mengkhawatirkan, mengingat puluhan ribu orang telah kehilangan nyawa akibat kekerasan yang terjadi. Dalam konteks ini, tindakan serupa menunjukkan urgensi untuk membahas perlindungan terhadap warga sipil dan fasilitas medis di wilayah yang tengah berkonflik.