shangrilabanquet.com – Microsoft memutuskan untuk memecat empat karyawannya akibat keterlibatan mereka dalam protes terhadap hubungan perusahaan dengan Israel. Dua dari empat karyawan tersebut, yakni Anna Hattle dan Riki Fameli, menerima kabar pemecatan melalui pesan suara setelah mereka ikut berdemo di kantor presiden Microsoft di Washington.
Kelompok yang mengorganisir aksi ini, bernama No Azure for Apartheid, menyatakan bahwa tindakan tersebut merupakan bentuk ketidakpuasan atas kebijakan Microsoft yang dianggap mendukung Israel. Selain Hattle dan Fameli, dua karyawan lainnya, Nisreen Jaradat dan Julius Shan, juga dipecat. Mereka semua terlibat dalam aksi demonstrasi yang berlangsung di kantor pusat Microsoft, di mana mereka mendirikan tenda sebagai simbol protes.
Microsoft menjelaskan bahwa pemecatan ini merupakan langkah tegas menyusul pelanggaran serius terhadap kebijakan perusahaan. Dalam surat pernyataannya, mereka menyatakan bahwa demonstrasi tersebut telah menimbulkan masalah keamanan yang signifikan bagi lingkungan kerja.
No Azure for Apartheid meminta Microsoft untuk menghentikan kerjasama dengan Israel dan memberikan kompensasi kepada warga Palestina. Hattle, salah satu pelaku demo, menyampaikan bahwa perusahaan telah berkontribusi pada apa yang mereka sebut sebagai genosida dan mengelabui karyawan mengenai realitas tersebut.
Tindakan protes ini juga menghadirkan konsekuensi hukum, di mana Hattle dan Fameli termasuk di antara tujuh orang yang ditangkap saat demonstrasi. Meskipun demikian, presiden Microsoft, Brad Smith, menegaskan bahwa perusahaan menghormati kebebasan berekspresi, asalkan dilakukan sesuai dengan hukum yang berlaku.