shangrilabanquet.com – Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) Bursa Efek Indonesia (BEI) mengalami penurunan signifikan pada Jumat sore, ditutup melemah 168,62 poin atau 2,08 persen di level 7.935,25. Penurunan ini dipicu oleh respons negatif pelaku pasar terhadap laporan lembaga pemeringkat global Moody’s yang menurunkan “outlook” peringkat utang pemerintah Indonesia, meskipun peringkat utang tetap berada di level Baa2.
Menurut Kepala Riset Phintraco Sekuritas, Ratna Lim, sentimen negatif ini berakar dari keputusan Moody’s, meskipun S&P Global Ratings menyatakan tidak ada perubahan pada pandangan mereka mengenai peringkat Indonesia, yang tetap memiliki outlook stabil. Ratna menambahkan, ada kebutuhan mendesak untuk memperbaiki kondisi fiskal Indonesia agar tidak terjadi penurunan peringkat lebih lanjut di masa depan.
Di sisi lain, data ekonomi menunjukkan cadangan devisa Indonesia pada Januari 2026 tercatat sebesar 154,6 miliar dolar AS, mengalami penurunan dari 156,5 miliar dolar AS pada bulan sebelumnya. Penurunan ini diakibatkan oleh pembayaran utang valuta asing dan upaya stabilisasi nilai tukar Rupiah oleh Bank Indonesia.
Sementara itu, indeks harga properti di Indonesia mencatat pertumbuhan paling lambat sejak 2023 dengan angka 0,83 persen year on year pada kuartal IV-2025. Pelaku pasar juga menanti rilis data consumer confidence, retail sales, dan penjualan kendaraan bermotor yang akan dihadapi di pekan mendatang.
Dalam perdagangan hari ini, sebanyak 2.248.150 transaksi tercatat dengan 35,58 miliar lembar saham diperdagangkan, di mana 107 saham mengalami kenaikan dan 646 saham mengalami penurunan. Negatifnya IHSG sejalan dengan pergerakan bursa saham regional Asia, di mana beberapa indeks mengalami pelemahan.