shangrilabanquet.com – Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) di Bursa Efek Indonesia (BEI) mengalami penurunan yang signifikan pada Jumat sore, ditutup melemah sebesar 124,85 poin atau 1,62 persen, berada di level 7.585,68. Penurunan ini dipicu oleh sikap investor yang lebih memilih untuk menghindari instrumen berisiko tinggi akibat meluasnya konflik antara Amerika Serikat dan Iran.
Dalam analisis yang disampaikan oleh Muhammad Wafi, Kepala Riset di PT Korea Investment And Sekuritas Indonesia, investor cenderung bersikap defensif dengan melikuidasi saham-saham berkapitalisasi besar, dan beralih ke aset yang dianggap aman seperti emas dan dolar AS. Ia menjelaskan bahwa ketidakpastian ini timbul sejalan dengan meningkatnya ketegangan di Timur Tengah dan tingginya imbal hasil obligasi pemerintah AS, terkait ekspektasi penetapan suku bunga yang tetap tinggi oleh The Fed.
Selain itu, rilis data inflasi dan tenaga kerja di AS juga dinanti-nanti pelaku pasar sebagai acuan untuk arah kebijakan moneter. Di dalam negeri, pemangkasan outlook kredit oleh Fitch Ratings mengakibatkan depresiasi nilai tukar rupiah dan aliran dana asing yang keluar secara masif.
IHSG tetap berada dalam zona merah sepanjang sesi perdagangan, dengan semua sektor mengalami penurunan. Sektor industri mencatatkan penurunan terdalam sebesar 3,67 persen, diikuti oleh sektor barang konsumen non-primer dan sektor energi. Frekuensi perdagangan saham tercatat sebanyak 1.946.837 transaksi dengan volume perdagangan mencapai 34,18 miliar lembar saham.
Melihat perkembangan tersebut, pelaku pasar kini menanti rilis data cadangan devisa dan respons Bank Indonesia untuk menstabilkan nilai tukar rupiah, seiring dengan tekanan jual yang terus berlanjut dari investor asing.