shangrilabanquet.com – Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) Bursa Efek Indonesia (BEI) pada Selasa sore mengalami penutupan yang melemah, tercatat turun sebesar 53,51 poin atau 0,61 persen, hingga mencapai level 8.657,18. Penurunan ini dipengaruhi oleh aksi profit taking pelaku pasar yang berlangsung menjelang pertemuan penting Federal Reserve (The Fed) yang dijadwalkan pada 9-10 Desember 2025.
Menurut Kepala Riset Phintraco Sekuritas, Ratna Lim, sentimen negatif dari bursa saham Asia dan aksi ambil untung menyusul pencapaian level tertinggi baru menjadi faktor utama penurunan IHSG. Para investor saat ini menunggu kemungkinan penurunan suku bunga acuan sebesar 25 basis poin oleh The Fed, yang diperkirakan memiliki peluang mencapai 89 persen.
Dari sisi domestik, Indeks Keyakinan Konsumen (IKK) menunjukkan kenaikan ke level 124 pada bulan November 2025, dibandingkan dengan level 121,2 pada bulan sebelumnya. Kenaikan ini didorong oleh perbaikan dalam semua sub-indeks utama. Pelaku pasar juga mengantisipasi data penjualan ritel untuk bulan Oktober yang diproyeksikan tumbuh sebesar 4 persen year on year (yoy).
Sepanjang perdagangan, IHSG membuka perdagangan dengan menguat tetapi kemudian bergerak ke zona negatif hingga sesi kedua. Berdasarkan Indeks Sektoral IDX-IC, sektor infrastruktur mencatatkan penguatan tertinggi, sementara sektor barang baku mengalami penurunan paling dalam.
Frekuensi perdagangan mencapai 3.115.997 transaksi dengan total saham yang diperdagangkan sebanyak 54,21 miliar lembar, senilai Rp26,17 triliun. Sebanyak 250 saham mengalami kenaikan, sedangkan 432 saham lainnya mengalami penurunan. Bursa saham Asia pun menunjukkan pergerakan yang beragam, dengan beberapa indeks mengalami penurunan.