shangrilabanquet.com – Kementerian Pertanian (Kementan) menyatakan bahwa Indonesia tidak melakukan impor beras medium. Semua kebutuhan beras medium di dalam negeri dipenuhi oleh produksi nasional yang diproyeksikan mencapai 34,79 juta ton pada tahun 2025, berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS). Dengan angka tersebut, Indonesia berada dalam kondisi surplus beras medium, menjamin keamanan dan stabilitas pasokan nasional.
Moch. Arief Cahyono, Kepala Biro Komunikasi dan Layanan Informasi Kementan, menjelaskan bahwa pemasukan beras tahun ini adalah untuk kebijakan beras khusus dan beras industri. Hanya jenis beras yang tidak diproduksi di dalam negeri atau dibutuhkan sebagai bahan baku industri yang dapat diimpor. Arief menekankan bahwa tidak ada impor beras medium yang masuk, melainkan beras untuk kebutuhan khusus, seperti untuk penderita diabetes, beras premium untuk digunakan di restoran asing dan hotel, serta beras industri.
Ia menambahkan bahwa jenis beras yang diimpor mencakup menir untuk industri dan berbagai varian beras khusus, seperti basmati dan jasmine, yang tidak diproduksi di Indonesia. Penyaluran beras khusus tersebut dipastikan tidak akan memengaruhi pasar beras medium serta harga gabah petani.
Di sisi lain, data BPS menunjukkan bahwa pada bulan Oktober 2025, impor beras tercatat sebesar 40,7 ribu ton, dengan total kumulatif dari Januari hingga Oktober mencapai 364,3 ribu ton, dengan nilai US$178,5 juta. Seluruh impor tersebut merupakan jenis beras khusus dan industri, bukan beras medium. Selain itu, beras mengalami deflasi 0,59% pada bulan November 2025, dipicu oleh peningkatan ketersediaan beras selama musim panen.